Warga Keluhkan Banjir Berulang di Jakarta, Drainase Dinilai Tak Maksimal

Banjir berulang di sejumlah wilayah Jakarta membuat warga geram. Banyak yang menilai sistem drainase tidak bekerja maksimal. Artikel ini membahas penyebab banjir, keluhan warga, penanganan pemerintah, serta pentingnya perbaikan jangka panjang.

Banjir kembali melanda sejumlah kawasan di Jakarta setelah hujan deras mengguyur kota selama beberapa jam. Fenomena ini bukan lagi hal baru bagi warga, namun frekuensinya yang semakin sering membuat masyarakat mulai gerah. Banyak yang menilai bahwa sistem drainase di beberapa wilayah tidak bekerja maksimal sehingga air cepat meluap meski hujan tidak berlangsung terlalu lama. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa Jakarta masih berada dalam situasi rawan banjir yang belum teratasi secara menyeluruh https://winong-kemiri.purworejokab.go.id/.

Keluhan warga datang dari berbagai kecamatan seperti Jakarta Timur, Jakarta Barat, dan Jakarta Selatan. Mereka mengungkapkan bahwa setiap hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi selalu diikuti genangan yang muncul dalam hitungan menit. Tidak sedikit warga yang merasa bahwa perbaikan drainase yang dilakukan pemerintah belum memberikan dampak signifikan terhadap pengurangan banjir di lingkungannya.

Di beberapa permukiman padat, warga bahkan terbiasa menyiapkan perlengkapan darurat seperti papan penghalang air, ember, hingga alat penyedot sederhana untuk mengantisipasi air masuk ke rumah. Hal ini menggambarkan betapa seringnya mereka menghadapi banjir berulang. Banyak warga yang berharap pemerintah memberikan solusi lebih efektif agar banjir tidak menjadi masalah musiman yang terus terjadi setiap tahun.

Salah satu penyebab utama banjir berulang adalah kapasitas drainase yang tidak sebanding dengan jumlah air yang mengalir ketika hujan turun deras. Banyak saluran air kecil yang tidak mengalami pembaruan sejak puluhan tahun lalu, sementara pembangunan gedung dan pemukiman baru terus meningkat. Perubahan tata ruang ini menciptakan permukaan kedap air yang luas sehingga air hujan tidak dapat meresap ke tanah dan langsung mengalir menuju drainase yang kapasitasnya terbatas.

Selain kapasitas saluran yang kecil, penyumbatan oleh sampah juga menjadi masalah serius. Beberapa warga mengeluhkan bahwa saluran air sering kali penuh dengan sampah rumah tangga, dedaunan, dan lumpur. Hal ini membuat aliran air terhambat sehingga genangan cepat terjadi. Dalam beberapa kasus, drainase yang sudah dibersihkan oleh petugas kembali tersumbat karena perilaku sebagian masyarakat yang masih membuang sampah sembarangan.

Penurunan muka tanah di wilayah tertentu, terutama Jakarta Utara dan sebagian Jakarta Barat, turut memperburuk kondisi banjir berulang. Wilayah yang mengalami penurunan permukaan tanah lebih rentan tergenang karena air sulit mengalir secara alami menuju sungai atau laut. Kondisi geografis ini menuntut adanya sistem pompa yang lebih efektif dan fasilitas drainase yang lebih canggih.

Menanggapi keluhan warga, pemerintah daerah telah melakukan berbagai upaya seperti pengerukan saluran air, pemasangan pompa tambahan, dan pemantauan pintu air secara intensif. Namun, dengan volume air yang terus meningkat akibat cuaca ekstrem, upaya teknis ini sering kali membutuhkan waktu untuk menunjukkan hasil optimal. Pemerintah juga mengajak masyarakat untuk berkolaborasi dalam menjaga kebersihan lingkungan agar drainase tidak cepat tersumbat.

Meskipun demikian, warga menilai bahwa solusi jangka pendek saja tidak cukup. Mereka berharap adanya rencana jangka panjang yang serius, seperti revitalisasi sistem drainase secara menyeluruh, penataan ulang kawasan rawan banjir, serta pengembangan ruang terbuka hijau sebagai area resapan air. Banyak warga berpandangan bahwa pendekatan komprehensif diperlukan untuk menghadapi tantangan banjir, terutama karena intensitas hujan diperkirakan semakin ekstrem akibat perubahan iklim.

Dampak banjir berulang terhadap kehidupan sehari-hari warga tidak dapat dianggap sepele. Selain kerugian material, banjir juga mengganggu mobilitas, kesehatan, dan produktivitas masyarakat. Banyak pekerja terpaksa terlambat atau absen karena jalanan tidak bisa dilalui. Anak-anak sekolah pun sering terdampak karena akses menuju sekolah terhambat oleh genangan. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mempengaruhi kualitas hidup warga Jakarta secara keseluruhan.

Dalam konteks kesehatan, banjir berulang meningkatkan risiko penyakit seperti leptospirosis, infeksi kulit, dan gangguan pencernaan. Air kotor yang menggenang dapat menciptakan lingkungan tidak sehat, terutama di permukiman padat dengan sanitasi terbatas. Warga harus ekstra hati-hati saat beraktivitas di sekitar genangan dan memastikan kebersihan diri serta lingkungan tetap terjaga.

Untuk meminimalkan dampak banjir, warga diimbau melakukan langkah sederhana seperti membersihkan saluran di sekitar rumah, tidak menumpuk barang di area yang bisa menghambat aliran air, serta menyiapkan rencana evakuasi bila diperlukan. Kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang lebih tahan terhadap cuaca ekstrem.

Keluhan warga mengenai banjir berulang di Jakarta menjadi pengingat bahwa masalah ini belum sepenuhnya teratasi. Drainase yang dinilai tidak maksimal harus menjadi fokus utama dalam perbaikan infrastruktur kota. Dengan langkah yang tepat, perencanaan matang, serta keterlibatan seluruh elemen masyarakat, Jakarta memiliki peluang besar untuk mengurangi risiko banjir dan menciptakan kota yang lebih aman di masa depan.